Wednesday, February 15, 2023
EKSPLORASI KONSEP MODUL 3.1 CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 6
EKSPLORASI KONSEP
MODUL 3.1 CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 6
“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).Bob Talbert
Makna yang begitu dalam pada kutipan di atas. Menurut saya makna tersebut merupakan sebuah pesan kepada guru jadilah guru yang bermakna untuk hidup mereka bukan hanya sekedar mentransper pengetahuan namun memberikan arti hidup yang berharga untuk masa depan merea. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, yakni menuntun segala kodrat pada murid-murid, agar mereka dapat menjadi manusia yang mandiri, selamat dan bahagia baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Kutipan tersebutpun bermaksud memberikan ilmu itu baik, namun ada hal yang lebih penting dari sekedar ilmu yaitu budi pekerti atau akhlak yang meliputi cipta rasa karsa dan raga, penanaman nilai-nilai kebajikan, serta mengasah setiap potensi sesuai dengan minat dan bakat murid.
1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~
Sebuah kalimat dari George Wilhelm Friedrich Hegel, Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis. Pendidikan menjadi point utama dalam membangun peradaban yang beretika, menjadikan generasi penerus bangsa tumbuh dengan bijaksana. Sekolah harus terus berkembang mengikuti perkembangan zaman, agar pendidikan tetap menjadi point utama yang disampaikan dengan cara-cara yang sesuai. Guru sebagai pendidik harus terus mengembangkan, membina, dan memimpin siswa dalam ranah pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dalam hal ini filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani patut menjadi pegangan bagi seorang guru, agar mampu mengambil keputusan untuk dapat berdiri di depan menjadi dan memberi teladan bagi siswa, di tengah-tengah membangkitkan semangat, dan di belakang memberi dorongan. Filosofi ini menjadikan seorang guru menjadi manusia yang mandiri, selamat dan bahagia. Filosofi Ki Hajar Dewantara akan menuntun setiap keputusan sehingga selalu berdasarkan pada keberpihakan pada murid, sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal, dan dapat dipertanggung jawabkan.
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Filosofi Ki Hajar Dewantara menanamkan nilai-nilai kebajikan dalam diri seorang guru. Sebagai pemimpin pembelajaran atau sebagai pemimpin dalam pengembangan sekolah, nilai-nillai kebajikan tersebut akan berdampak pada prinsip-prinsip dalam pengambilan suatu keputusan. Nilai-nilai tersebut akan menjadi potensi dalam mengenali dan menganalisis suatu permasalahan sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat dalam menyelesaikannya. Seperti nilai berkolaborasi, reflektif, dan inovatif.
3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
Guru dengan perannya sebagai pemimpin akan sangat memungkinkan dihadapkan pada sebuah dilema atau bahkan bujukan moral. Pengambilan keputusan antara benar lawan benar, atau benar lawan salah. Teknik coaching dirasa adalah strategi yang tepat sebagai upaya dalam membantu proses pengambilan keputusan. Coaching akan menjadi strategi yang menuntun dan membimbing seseorang dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, namun orang itu sendiri yang akan memaksimalkan potensi dirinya demi menemukan jalan keluar dari permasalahannya. Teknik coaching TIRTA sangat efektif untuk dikombinasikan dengan pengambilan keputusan yang berpedoman pada 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Selain tekhnik coaching tekhnik segitiga restitusipun bisa membantu seorang pemimpin mencari tau terkait hal-hal yang mendukung proses keputusan yang akan diambil.
4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Kompetensi sosial emosional akan turut andil dalam menuntun seseorang mengambil keputusan. Guru sebagai pemimpin haruslah mampu mengenali dan mengasah keteramilan sosial emosionalnya. Baik atau tidaknya keterampilan sosial emosioal seorang guru akan menentukan bagaimana teknik penyelesaian suatu dilema etika yang dihadapi. Dengan menguasai tekhnik STOP guru atau seorang pemimpin akan tetap tenang saat menghadapi dilema, berfikir jernih tanpa terburu-buru dan saat menetapkan keputusan dalam kondisi yang tenang.
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Untuk pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika difokuskan pada kesadaran diri atau self awareness serta keterampilan berelasi dalam mengambil sebuah keputusan. Kita dapat berpedoman pada sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan terutama pada uji legalitas untuk memastikan apakah permasalahan tersebut termasuk dilema etika yang merupakan masalah benar lawan benar atau merupakan kasus bujukan moral yang berarti benar lawan salah. Jika masalah adalah kasus bujukan moral maka tentu dengan nilai-nilai kabjikan yang ada dalam diri seorang pemimpin kita semestinya berpegang teguh pada nilai kebenaran.
6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Kondisi lingkungan yang positif, aman dan nyaman dapat terwujudkan apabila kita dapat mengimplementasikannya dalam pola pendekatan yang lebih tertata dan sistematis. Sesuai dengan pembelajaran yang terdapat dalam modul ini, sebuah pendekatan Inkuiri Apresiatif yaitu strategi perubahan kolaboratif berbasis kekuatan atau yang lebih kita kenal tahapan BAGJA.
7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Tantangan yang sering dihadapkan dalam menghadapi dilema etika adalah perbedaan sudut pandang, cara berfikir, dan perbedaan keterampilan sosial emosional seorang guru atau pemimpin dalam menyelesaikan masalahnya.
8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Pengambilan keputusan yang di ambil dengan menggunakan paradigma, prinsip pengambilan keputusan serta 9 langkah pengujian pengambilan keputusan tentu akan memberi pengaruh dalam memerdekakan murid-murid. Tujuan akhir dari proses pembelajaran yang kita lakukan adalah pembelajaran dengan konsep merdeka belajar. Dalam merdeka belajar, murid diberikan keleluasaan untuk berpikir, untuk memutuskan sesuai dengan kekuatan kodrat alam dan kodrat zamannya. Murid pun dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam belajar sesuai dengan potensinya masing-masing.
9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Seorang guru atau pemimpin pembelajaran saat memutuskan suatu keputusan harus berpihak pada anak. Sebelum guru tersebut memutuskan suatu keputusan harus melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan, agar keputusan yang diambil nanti berdampak baik bagi siswa dimasa depannya.
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan akhir dari modul yang saya pelajari yaitu saat memutuskan suatu keputusan harus berpihak pada anak dengan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Disamping saat mengalami dilema etika bisa menyelesaikan permasalahan dengan tekhnik coaching ataupun tekhnik segitiga restitusi. Pengambilan keputusan berlandaskan pada budaya positif dengan menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA, yang akan mengantarkan murid pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Dalam pengambilan keputusan, seorang guru harus didasari pada kesadaran penuh (mindfulness) dalam upaya memfasilitasi murid menjadi bagian dari Profil Pelajar Pancasila.
11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Dalam mempelajari modul pada LMS ini saya merasa banyak pengetahuan yang bisa saya dapatkan, terutama pengetahuan untuk bekal menjadi seorang pemimpin pembelajaran. banyak hal yang meski saya gali kembali dan pelajari kembali sehingga tidak sebatas ilmu pengetahuan semata namun harus saya lakukan dan implementasikan dalam kegiatan atau pembelajaran di sekolah baik saat mengajar maupun saat menyelesaikan permasalahan yang ada.
12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Sebagai seorang guru saya sering merasakan dilema saat harus memutuskan sesuatu keputusan, keputusan yang saya ambil mencoba untuk tidak ada yang merasa di rugikan dan keputusan itu tepat. Namun dengan adanya materi pada modul 3.1 ini saya merasa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru dengan prinsip pengambilan keputusan, langkah-langkah pengujian pengambilan keputusan dan paradigma tentang dilema etika.
13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Dampak positif bagi saya saat mempelajari materi ini adalah saya mampu mengetahui cara pengambilan keputusan yang baik dengan menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan sehingga suatu saat nanti saat saya merasakan dilema etika saya akan menerapkannya. pembelajaran modul ini memberi saya gambaran bagaimana keputusan itu dipertimbangakan, diuji dan di ambil.
14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Sebagai individu sangat penting sekali kita mempelajari modul ini, apalagi sebagai seorang pemimpin yang sering disuguhi dengan berbagai permasalahan, kebijakan, tanggung jawab yang dimana hal tersebut harus menentukan keputusan, sehingga modul ini begitu penting untuk kita pelajari.
Suhendra S, S.Pd.
Calon Guru Penggerak Kota Cilegon
SDIT Raudhatul Jannah
Thursday, April 23, 2020
jadwal imsak kota cilegon 2020
Alhamdulillahirobbilalamin kita sudah memasuki bulan yang penuh berkah ini yaitu bulan Suci Ramadhan 1441 H/ tahun 2020. semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, keberkahan setra kemudalan dalam menjalankan ibadah di bulan ini.
Maka dari itu saya kirimkan jadwal Imsakiah Ramadhan 1441H/tahun 2020 hususnya untuk warga kota Cilegon. semoga bermanfaan.
Maka dari itu saya kirimkan jadwal Imsakiah Ramadhan 1441H/tahun 2020 hususnya untuk warga kota Cilegon. semoga bermanfaan.
Tuesday, April 21, 2020
Saturday, April 18, 2020
Mengenal jam
MENGENAL JAM
Tujuan
Pembelajaran
- Setelah mengamati gambar jam, siswa dapat mengenal satuan baku untuk mengukur waktu dengan benar.
- Setelah tanda waktu yang ditunjukkan jarum jam, siswa dapat membaca dan menentukan tanda waktu yang ditunjukkan jarum jam dengan tepat.
Materi Pembelajaran
Dalam rutinitas sehari-hari tidak akan terlepas dari waktu, mulai dari bangun tidur pagi, mandi, sarapan, berangkat sekolah, melaksanakan kegiatan belajar dan bermain, nonton TV, olahraga dan banyak lagi kegiatan yang membutuhkan waktu.
Jadwal pelajaran maupun jadwal kegiatan setiap hari adalah contoh penerapan pengaturan waktu yang terdapat jenis kegiatan dan waktu melaksanakannya. Tentunya sebelum membuat jadwal harus terlebih dahulu dapat membaca waktu yang tertera pada jam dinding.
Jadwal pelajaran maupun jadwal kegiatan setiap hari adalah contoh penerapan pengaturan waktu yang terdapat jenis kegiatan dan waktu melaksanakannya. Tentunya sebelum membuat jadwal harus terlebih dahulu dapat membaca waktu yang tertera pada jam dinding.
Sekarang mari belajar mengenal waktu. Pukul berapa kamu masuk sekolah? Pada jadwal yang tertera, masuk sekolah pukul 07.00. Bagaimana bisa mengetahui sekarang pukul 07.00?
Berdasarkan tema sebelumnya, pukul tujuh tertera seperti gmbar berikut:

Berdasarkan tema sebelumnya, pukul tujuh tertera seperti gmbar berikut:

Setelah dapat membaca jam, sekarang kita bersama dapat mengerti berapa menit dalam satu jam dan berapa detik dalam satu menit melalui pengamatan, mari kita amati jam dinding atau jam tangan di sekelilingmu lalu hitung dalam satu putaran, jarum jam yang menunjukkan detik bergerak berapa detik?
Contoh:
- 2 jam = 120 menit
- 3 jam = 180 menit
- 1 jam 30 menit = 90 menit
- 1 jam 15 menit = 75 menit
- Hasan mandi pukul 03.30 sore dan selesai pukul 03.45 sore. Berapa menit Hasan mandi? Jawab : 15 menit
- Ani mengerjakan PR selama 1 jam 55 menit, berapa menit Ani mengerjakan PR? Jawab : 60 menit + 55 menit = 115 menit
Setelah mengetahui hal tersebut, selanjutnya dapat kita ketahui bersama bahwa satu putaran jam ada 12 jam, karena ada siang dan malam, maka dalam sehari ada 24 jam.
kalau seminggu ada berapa hari ya?? hayoo, siapa yang bisa menyebutkan nama-nama hari? Yap, benar sekali, ada Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu. jadi dalam satu minggu ada 7 hari.
kalau hari ini hari Senin, 5 hari lagi hari apa ya?? Yuk, kita lihat pada kalender, lima hari setelah hari Senin itu hari apa ya??
Nah setelah melihat kalender, ternyata lima hari setelah hari Senin adalah hari Sabtu.
Kalau hari ini hari Rabu, dua hari yang lalu hari apa?
kalau hari ini hari Senin, 5 hari lagi hari apa ya?? Yuk, kita lihat pada kalender, lima hari setelah hari Senin itu hari apa ya??
Nah setelah melihat kalender, ternyata lima hari setelah hari Senin adalah hari Sabtu.
Kalau hari ini hari Rabu, dua hari yang lalu hari apa?
Contoh :
- 2 hari = 48 jam
- 3 hari = 72 jam
- 2 minggu = 14 hari
- 1 bulan = 30 hari
- 3 minggu 4 hari = 25 hari
- Hari ini hari Minggu, 3 hari yang lalu adalah hari Kamis
- Kemarin hari Jumat, 2 hari lagi hari Senin
- 4 hari setelah hari Rabu adalah hari Minggu
Dalam satu tahun, ada berapa bulan adik-adik?? Sebelum mencari satu tahun ada berapa bulan, sekarang sebutkan nama-nama bulan pada satu tahun.

Pintar sekali.. ada berapa jumlah bulan-bulan tersebut? Yaps, ada 12 bulan..

Pintar sekali.. ada berapa jumlah bulan-bulan tersebut? Yaps, ada 12 bulan..
Waah, setelah membaca materi diatas, kalian sudah paham kan tentang waktu? Sekarang kalian sudah pandai dalam membaca jam dan kalender yang ada di rumah kalian.
untuk lebih memahami materi di atas, mari simak materi tentang waktu berikut:
C. Latihan Soal
untuk mengerjakan latihan soal-soal tentang waktu, anak-anak bisa membuka link di bawah ini
semoga setelah kalian mempelajari materi ini, kalian bisa paham mengenai waktu. demikian dan trimakasih.
Wassalamualaikum WR WB.
Friday, April 17, 2020
Life skill anak
Life skill anak
tahukan anak seberapa penting anak memiliki life skill untuk menunjang kehidupan mereka dikemudian hari. Proses pembelajaran life skill ini merupakan dasar pendidikan yang seharusnya dibentuk oleh keluarga, karena pendidikan formal atau sekolah tidak banyak menyentuh pendidikan life skill anak.
Banyak sekali kegiatan life skill yang harus dimiliki oleh anak. Diantaranya :
1. Mandi
2. Memakai baju
3. Gosok gigi
4. Makan
5. Merapihkan tempat tidur
6. Memotong kuku
7. Menjemur pakaian
8. Mencuci
9. Menanam
10. Nyetrika
11. Mengganti sarung bantal dan Sprai
12. Menyapu dan ngepel lantai
13. Mengikat tali sepatu
14. Menggunting kuku
15. Melipat baju
tahukan anak seberapa penting anak memiliki life skill untuk menunjang kehidupan mereka dikemudian hari. Proses pembelajaran life skill ini merupakan dasar pendidikan yang seharusnya dibentuk oleh keluarga, karena pendidikan formal atau sekolah tidak banyak menyentuh pendidikan life skill anak.
Banyak sekali kegiatan life skill yang harus dimiliki oleh anak. Diantaranya :
1. Mandi
2. Memakai baju
3. Gosok gigi
4. Makan
5. Merapihkan tempat tidur
6. Memotong kuku
7. Menjemur pakaian
8. Mencuci
9. Menanam
10. Nyetrika
11. Mengganti sarung bantal dan Sprai
12. Menyapu dan ngepel lantai
13. Mengikat tali sepatu
14. Menggunting kuku
15. Melipat baju
Thursday, September 21, 2017
Literasi di Pelosok Negri
Literasi
di Pelosok Negeri
Oleh
: Suhendra S, S.Pd
“Pak
Guru, ada yang berantem di sana!” teriak Elsih dengan keras.
“Siapa
yang berantem, Elsih?” tanyaku. Tanpa menunggu jawabannya, aku segera menghampiri
kerumunan di pojok sekolah.
Tampak
Sahrudin memukuli Evan dengan begitu kerasnya, dengan cepat kutarik tangan
Sahrudin. Mata Sahrudin menatap tajam Evan. Keduanya segera kubawa ke kantor.
“Mengapa
kalian pagi-pagi sudah berantem?” tanyaku pada mereka.
“Sahrudin
menyembunyikan bukuku Pak,” jawab Evan dengan terisak.
Setelah
memberikan sedikit nasihat, aku mendorong keduanya untuk berdamai dan saling
memaafkan. Sebagai hukuman akibat melanggar peraturan, keduanya diharuskan
membuat tulisan “saya tidak akan berantem lagi” sebanyak 10 kali.
Sahrudin
kupersilahkan masuk ke kelas. Sedangkan Evan tetap bersamaku. Ada hal yang
hendak kugali darinya. Kesempatan ini tidak ingin kusia-siakan begitu saja.
Banyak pertanyaan yang kuajukan pada Evan, baik tentang keluarga, kegiatan di rumah,
maupun kesukaannya.
Evan
yang sering jadi buah bibir disekoalahku ini dikenal sebagai siswa yang belum
dapat membaca. Padahal, dia sudah berada di kelas 3 MIN 1 Bombana, Kabupaten
Bombana, Sulawesi tenggara.
Awal
perkenalan dengan anak ini dimulai dari perbincangan kecil para guru.
“Menurut
saya, Evan itu pantasnya dimasukan ke sekolah luar biasa,” ucap salah satu guru
ketika kami sedang memperbincangkannya.
Mendengar
ucapan tersebut aku merasa lemas seketika. Hatiku terbakar, entah kenapa. guru
tersebut belum tahu diri Evan yang sebenarnya, namun berkata kurang patut
menurutku.
Sekolah
kami merupakan sekolah yang berada di perbatasan Kabupaten, sehingga akses ke
pusat kota sulit dilakukan. Berkat dukungan dari kepala sekolah, aku tidak
patah semangat untuk melakukan perubahan di sekolah ini. Masalahan yang
dihadapi Evan menginspirasiku agar tidak ada lagi anak yang tidak dapat
membaca, akhirnya munculah ide sebuah gerakan membaca yang kelak dinamakan GELAS
(Gerakan Literasi Sekolah).
GELAS
bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dan menulis anak-anak, dimana sejak
pertama kali aku berada di sini, perpustakaan sekolah hanya menjadi sebuah
gudang buku yang tak pernah dibuka dan dilihat. Dengan kondisi itulah aku
berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik untuk gerakan ini, agar minat baca
mereka tumbuh dengan kesadaran sendiri.
Aku
berpikir keras agar gerakan ini disukai oleh semua kalangan, baik rekan-rekan
guru, orangtua maupun siswa. Untuk menyukseskan gerakan ini, aku bekerjasama
dengan siswa kelas 6. Dibawah bimbinganku, merekaku berikan kepercayaan untuk
mengelola semua gerakan ini, mulai dari memilih buku, menyiapkan meja, hadiah,
sampai dengan kostum yang mereka kenakan. Kepercayaan ini aku berikan untuk
mengajarkan mereka keberanian dan kemandirian.
Siswa
kelas 6 pun sudah siap menyambut para pembaca, mereka menyediakan buku-buku
yang di pajang di depan kelas. Setiap siswa memilih buku yang ingin mereka
baca, dengan waktu 15 menit anak-anak membaca di lingkungan sekolah, ada yang
membaca di dalam kelas, di koridor sekolah, di taman, bahkan di bawah pohon.
Sedangkan
bagi anak-anak yang belum dapat membaca seperti Evan, aku merancang sebuah
kegiatan agar belajar membaca terasa menyenangkan. Kegiatan yang aku buat
seperti mendongeng dengan menggunakan boneka tangan, membuat huruf menggunakan
lilin warna, tetab-tebakan menyambung kata dan lain sebagainya.
Hasil
positif yang kami peroleh dari gerakan ini adalah semakin banyaknya siswa yang
masuk ke perpustakaan untuk membaca atau bermain alat-alat peraga yang ada di
perpustakaan. Disamping itu ada beberapa siswa yang meminjam buku sekolah untuk
dibaca di rumahnya, serta pengetahuan mereka pun semakin bertambah.
Gerakan
literasi hari ini sudah selesai, waktunya anak-anak belajar di kelas. Guru
kelas 3 ternyata izin tidak masuk. Karena jam pertama dan kedua tidak ada
jadwal mengajar, aku pun berinisiatif menggantikannya. Ada kesempatan lagi
untuk mengenal jauh Evan.
“Anak-anak
apa yang Bapak pegang ini?” tanyaku setelah mengucapkan salam, berdoa bersama
dan yel-yel semangat.
“Uang
sepuluh ribu, Pak!” serentak mereka menjawab.
“Hari
ini kita akan belajar tentang apa ya?” aku merangsang imajinasi mereka dengan
pertanyaan.
Ada
yang menjawab tentang pasar, bank, belanja, atau uang.
“Menurut
Evan, hari ini kita mau belajar pelajaran apa
ya, Nak?” tanyaku pada Evan, yang duduk di sudut kelas.
Detak
jantungku berdegup kencang menunggu jawabannya.
“Matematika,
Pak” jawabnya dengan nada malu.
“Wah
jawaban Evan benar, tepuk heba!.” Akupun memberi apresiasi kepadanya bersama
seluruh siswa
“
Waaaaaw hebat!” jawab serempak
teman-temannya dengan memberikan dua jempol kepada Evan.
“Hari
ini kita belajar matematika, silahkan bukunya disiapkan,” perintahku pada
siswa.
Aku
membagi siswa ke dalam empat kelompok, setiap kelompok akan berkopetisi untuk
mendapatkan juara.
“Waduh
satu kelompok sama Evan. Pak dia dongo,
saya gak mau satu kelompok sama dia,”
protes Rizki.
“Rizki,
ini sudah ketentuan permainan, siapa pun anggotanya itulah kelompok kalian,”
sergahku.
Setelah
pembahasan cara menulis nominal uang rupiah dengan benar, aku mengadakan
kompetisi di setiap kelompok. Setelah siswa-siswa yang lain bergantian ke papan
tulis, giliran Evan yang maju.
“Pasti
si dongo salah,” ejek Rizki dihadapan
teman-temannya.
“Rizki
sekali lagi kamu mengatakan itu, Bapak akan hukum kamu,” ancamku dengan
memendam dongkol di hati.
Memang
benar yang dibicarakan selama ini tentang Evan. Aku menyaksikan langsung dia
memang belum bisa membaca. jangankan membaca, huruf saja dia belum tahu.
Untuk
mencari tahu masalah Evan yang sebenarnya, kugali beberapa informasi dari
berbagai sumber. Sampai akhirnya aku berkesimpulan bahwa Evan mengalami
disleksia. Awalnya aku bingung harus berbuat apa. Tapi, setelah memetik
inspirasi dari film tentang anak disleksia yang ada di laptopku, aku percaya
Evan bisa sembuh.
“Evan,
mau tidak bermain dengan Bapak?” tawaranku padanya suatu ketika.
“Bermain
apa, Pak?” jawabnya dengan penuh senyuman
“Main
ular tangga,” balasku
Aku
membuat ular tangga ini hasil mencari tahu apa kesukaan Evan. Kebetulan saat
itu anak-anak sedang hobi bermain ular tangga, aku menciptakan ular tangga dengan
memodifikasi ular tangga yang biasa anak-anak mainkan. Agar tidak sulit untuk
mereka mainkan, aku hanya mengubah sedikit aturan untuk memainkannya.
Bahan
dan alat yang diperlukan adalah kertas karton, gambar-gambar (hewan, tumbuhan atau
benda) lem, gunting, pensil, spidol warna, penggaris, pulpen dan lem pelastik.
Untuk
membuatnya, Pertama aku memotong kertas karton dengan ukuran 30 x 60
sentimeter. Lalu karton diberi garis lurus vertikal dan horizontal hingga
menghasilkan kotak sejumlah 100 buah. Di kotak-kotak inilah kutempelkan
gambar-gambar yang keduanya saling berhubungan. Gambar-gambar tersebut kemudian
disatukan oleh ular dan tangga.
Setelah
selesai, aku menuliskan perkalian di delapan kotak yang ada di sana, seperti
3x4, 5x2, 2x4. Lalu menuliskan nomor 1-9 dan dilanjutkan dengan abjad dari A
sampai Z. Setelah itu, ditutup dengan lem pelastik agar kertas tidak terkena air
atau mudah sobek.
Aturan
main dalam permainan ular tangga ini sebagai berikut : ketika mengenai kotak
mana pun, siswa harus mengucapkan huruf
atau angka yang berada di kotak tersebut. Jika tidak bisa, maka dia harus turun
satu langkah. Saat posisi penjumlahan, pengurangan ataupun perkalian, siswa
yang mampu menjawab bisa naik sebanyak tiga langkah. Apabila salah menjawab,
maka dia harus turun kembali sebanyak tiga langkah.
Permainan
pun dimulai, Evan melemparkan dadu tersebut. Muncullah angka 5 pada dadunya. Dia
pun perlahan menggeserkan pionnya dengan dibarengi hitungan 1 sampai 5.
“Lima,
Pak” teriaknya.
Sekarang
giliranku melemparkan dadu. Muncullah angka enam pada dadu. Aku menggeserkan perlahan agar Evan terbiasa
dengan angka-angka ini. Kebetulan pionku berada di posisi yang menunjukan
tangga. Pion pun naik melangkah. Karena yang keluar angka 6, aku melemparkan
dadu kembali dan diperolehlah angka 3. Perlahan pion pun kugeser hingga
berhenti di huruf K.
Giliran
Evan yang berikutnya melemparkan dadu. Permainan semakin seru. Beberapa huruf
yang dilewati, ternyata belum Evan ketahui, yaitu B, D, P, F, N dan M. Evan juga
belum bisa membedakan huruf kapital dan huruf kecil. Ketika mengetahui huruf B
(kapital), dia tidak tahu hurup b yang kecil. Perbedaan huruf kapital dan kecil
ini membingungkan dirinya. Sama halnya saat ia kesulitan membedakan huruf P dan
F.
Dari
informasi yang kuperoleh, disleksia bisa diatasi dengan banyak cara. Selain
menggunakan ular tangga, aku aku biasa membawa lilin-lilin warna untuk membuat
huruf. Cerita juga kerap kupakai untuk mengenalkan huruf. Gambar-gambar
berhuruf kujadikan sebagai nama tokoh cerita.
Tanpa
terasa, satu bulan sudah aku menangani Evan, Dia sudah mengetahui huruf-huruf.
Tinggal mengajarinya untuk menyambungkan kata per karta. Karena ada banyak
aktivitas lain yang juga penting, kukurangi porsi mendampingi Evan di luar
sekolah. Tentu saja aku sebenarnya tidak ingin kemajuan yang sudah dicapai Evan
terhenti tiba-tiba. Sebuah carapun sudah kupikirkan : ular tangga buatanku
kuberikan kepadanya untuk dibawa ke rumah. Dengan ular tangga ini aku berharap
dia tetap bermain bersama teman-temannya sambil secara tidak langsung belajar
mengenal huruf.
Suatu
hari saat aku mengajar di kelas 1, mataku tak sengaja melihat Evan yang sedang
memperhatikanku. Tepatnya memerhatikan huruf-huruf yang kutuliskan di papan
tulis. Huruf-huruf itu berisikan perintah pada anak-anak. Lamat-lamat kudengar
suara Evan turut membaca. Hatiku langsung bungah melihat kemajuan Evan.
Selesai
mengajar siswa kelas satu, aku segera memanggil Evan. Kusodorkan kertas dengan
satu kalimat pendek di atasnya. Dengan terbata-bata Evan membaca kata demi kata
kalimat tersebut. Hatiku kembali bahagia dan terharu melihat Evan sudah bisa
membaca walau masih terbata-bata.
Evan
hanya salah satu dari sekian anak spesial yang pernah kutemui. Mereka butuh
perhatian dan kasih sayang pendidikan, dan bukan sebaliknya, yakni menerima
bentakan, ejekan, dan hinaan. Apabila psikologi anak-anak itu labil dan rapuh,
lingkungan sekolah berpotensi menghancurkan mereka dengan cepat.
Bukan
hanya Evan dan beberapa temannya yang masih kesulitan dalam membaca dan
menulis, masih terdapat ribuan anak Indonesia yang membutuhkan perhatian kita.
Hal ini menjadi perhatian kita bersama untuk memajukan pendidikan Indonesia
yang lebih baik, salah satu kemajuan tersebut dengan Gerakan Literasi Sekolah.
Karena dengan gerakan ini banyak perubahan-perubahan yang lebih baik yang
dirasakan oleh siswa, guru maupun sekolah. Mari kita konsisten dan terus berinovasi
menciptakan suasana literasi yang menyenangkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)













