Wednesday, February 15, 2023

EKSPLORASI KONSEP MODUL 3.1 CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 6

EKSPLORASI KONSEP MODUL 3.1 CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 6 “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).Bob Talbert Makna yang begitu dalam pada kutipan di atas. Menurut saya makna tersebut merupakan sebuah pesan kepada guru jadilah guru yang bermakna untuk hidup mereka bukan hanya sekedar mentransper pengetahuan namun memberikan arti hidup yang berharga untuk masa depan merea. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, yakni menuntun segala kodrat pada murid-murid, agar mereka dapat menjadi manusia yang mandiri, selamat dan bahagia baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Kutipan tersebutpun bermaksud memberikan ilmu itu baik, namun ada hal yang lebih penting dari sekedar ilmu yaitu budi pekerti atau akhlak yang meliputi cipta rasa karsa dan raga, penanaman nilai-nilai kebajikan, serta mengasah setiap potensi sesuai dengan minat dan bakat murid. 1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin? Education is the art of making man ethical. Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~ Sebuah kalimat dari George Wilhelm Friedrich Hegel, Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis. Pendidikan menjadi point utama dalam membangun peradaban yang beretika, menjadikan generasi penerus bangsa tumbuh dengan bijaksana. Sekolah harus terus berkembang mengikuti perkembangan zaman, agar pendidikan tetap menjadi point utama yang disampaikan dengan cara-cara yang sesuai. Guru sebagai pendidik harus terus mengembangkan, membina, dan memimpin siswa dalam ranah pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam hal ini filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani patut menjadi pegangan bagi seorang guru, agar mampu mengambil keputusan untuk dapat berdiri di depan menjadi dan memberi teladan bagi siswa, di tengah-tengah membangkitkan semangat, dan di belakang memberi dorongan. Filosofi ini menjadikan seorang guru menjadi manusia yang mandiri, selamat dan bahagia. Filosofi Ki Hajar Dewantara akan menuntun setiap keputusan sehingga selalu berdasarkan pada keberpihakan pada murid, sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal, dan dapat dipertanggung jawabkan. 2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan? Filosofi Ki Hajar Dewantara menanamkan nilai-nilai kebajikan dalam diri seorang guru. Sebagai pemimpin pembelajaran atau sebagai pemimpin dalam pengembangan sekolah, nilai-nillai kebajikan tersebut akan berdampak pada prinsip-prinsip dalam pengambilan suatu keputusan. Nilai-nilai tersebut akan menjadi potensi dalam mengenali dan menganalisis suatu permasalahan sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat dalam menyelesaikannya. Seperti nilai berkolaborasi, reflektif, dan inovatif. 3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya. Guru dengan perannya sebagai pemimpin akan sangat memungkinkan dihadapkan pada sebuah dilema atau bahkan bujukan moral. Pengambilan keputusan antara benar lawan benar, atau benar lawan salah. Teknik coaching dirasa adalah strategi yang tepat sebagai upaya dalam membantu proses pengambilan keputusan. Coaching akan menjadi strategi yang menuntun dan membimbing seseorang dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, namun orang itu sendiri yang akan memaksimalkan potensi dirinya demi menemukan jalan keluar dari permasalahannya. Teknik coaching TIRTA sangat efektif untuk dikombinasikan dengan pengambilan keputusan yang berpedoman pada 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Selain tekhnik coaching tekhnik segitiga restitusipun bisa membantu seorang pemimpin mencari tau terkait hal-hal yang mendukung proses keputusan yang akan diambil. 4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika? Kompetensi sosial emosional akan turut andil dalam menuntun seseorang mengambil keputusan. Guru sebagai pemimpin haruslah mampu mengenali dan mengasah keteramilan sosial emosionalnya. Baik atau tidaknya keterampilan sosial emosioal seorang guru akan menentukan bagaimana teknik penyelesaian suatu dilema etika yang dihadapi. Dengan menguasai tekhnik STOP guru atau seorang pemimpin akan tetap tenang saat menghadapi dilema, berfikir jernih tanpa terburu-buru dan saat menetapkan keputusan dalam kondisi yang tenang. 5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik? Untuk pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika difokuskan pada kesadaran diri atau self awareness serta keterampilan berelasi dalam mengambil sebuah keputusan. Kita dapat berpedoman pada sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan terutama pada uji legalitas untuk memastikan apakah permasalahan tersebut termasuk dilema etika yang merupakan masalah benar lawan benar atau merupakan kasus bujukan moral yang berarti benar lawan salah. Jika masalah adalah kasus bujukan moral maka tentu dengan nilai-nilai kabjikan yang ada dalam diri seorang pemimpin kita semestinya berpegang teguh pada nilai kebenaran. 6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Kondisi lingkungan yang positif, aman dan nyaman dapat terwujudkan apabila kita dapat mengimplementasikannya dalam pola pendekatan yang lebih tertata dan sistematis. Sesuai dengan pembelajaran yang terdapat dalam modul ini, sebuah pendekatan Inkuiri Apresiatif yaitu strategi perubahan kolaboratif berbasis kekuatan atau yang lebih kita kenal tahapan BAGJA. 7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda? Tantangan yang sering dihadapkan dalam menghadapi dilema etika adalah perbedaan sudut pandang, cara berfikir, dan perbedaan keterampilan sosial emosional seorang guru atau pemimpin dalam menyelesaikan masalahnya. 8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda? Pengambilan keputusan yang di ambil dengan menggunakan paradigma, prinsip pengambilan keputusan serta 9 langkah pengujian pengambilan keputusan tentu akan memberi pengaruh dalam memerdekakan murid-murid. Tujuan akhir dari proses pembelajaran yang kita lakukan adalah pembelajaran dengan konsep merdeka belajar. Dalam merdeka belajar, murid diberikan keleluasaan untuk berpikir, untuk memutuskan sesuai dengan kekuatan kodrat alam dan kodrat zamannya. Murid pun dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam belajar sesuai dengan potensinya masing-masing. 9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya? Seorang guru atau pemimpin pembelajaran saat memutuskan suatu keputusan harus berpihak pada anak. Sebelum guru tersebut memutuskan suatu keputusan harus melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan, agar keputusan yang diambil nanti berdampak baik bagi siswa dimasa depannya. 10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya? Kesimpulan akhir dari modul yang saya pelajari yaitu saat memutuskan suatu keputusan harus berpihak pada anak dengan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Disamping saat mengalami dilema etika bisa menyelesaikan permasalahan dengan tekhnik coaching ataupun tekhnik segitiga restitusi. Pengambilan keputusan berlandaskan pada budaya positif dengan menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA, yang akan mengantarkan murid pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Dalam pengambilan keputusan, seorang guru harus didasari pada kesadaran penuh (mindfulness) dalam upaya memfasilitasi murid menjadi bagian dari Profil Pelajar Pancasila. 11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan? Dalam mempelajari modul pada LMS ini saya merasa banyak pengetahuan yang bisa saya dapatkan, terutama pengetahuan untuk bekal menjadi seorang pemimpin pembelajaran. banyak hal yang meski saya gali kembali dan pelajari kembali sehingga tidak sebatas ilmu pengetahuan semata namun harus saya lakukan dan implementasikan dalam kegiatan atau pembelajaran di sekolah baik saat mengajar maupun saat menyelesaikan permasalahan yang ada. 12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini? Sebagai seorang guru saya sering merasakan dilema saat harus memutuskan sesuatu keputusan, keputusan yang saya ambil mencoba untuk tidak ada yang merasa di rugikan dan keputusan itu tepat. Namun dengan adanya materi pada modul 3.1 ini saya merasa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru dengan prinsip pengambilan keputusan, langkah-langkah pengujian pengambilan keputusan dan paradigma tentang dilema etika. 13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini? Dampak positif bagi saya saat mempelajari materi ini adalah saya mampu mengetahui cara pengambilan keputusan yang baik dengan menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan sehingga suatu saat nanti saat saya merasakan dilema etika saya akan menerapkannya. pembelajaran modul ini memberi saya gambaran bagaimana keputusan itu dipertimbangakan, diuji dan di ambil. 14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin? Sebagai individu sangat penting sekali kita mempelajari modul ini, apalagi sebagai seorang pemimpin yang sering disuguhi dengan berbagai permasalahan, kebijakan, tanggung jawab yang dimana hal tersebut harus menentukan keputusan, sehingga modul ini begitu penting untuk kita pelajari. Suhendra S, S.Pd. Calon Guru Penggerak Kota Cilegon SDIT Raudhatul Jannah

Thursday, April 23, 2020

soal PAT (Tuga latihan pembuatan blog)

jadwal imsak kota cilegon 2020

Alhamdulillahirobbilalamin kita sudah memasuki bulan yang penuh berkah ini yaitu bulan Suci Ramadhan 1441 H/ tahun 2020. semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, keberkahan setra kemudalan dalam menjalankan ibadah di bulan ini.

Maka dari itu saya kirimkan jadwal Imsakiah Ramadhan 1441H/tahun 2020 hususnya untuk warga kota Cilegon. semoga bermanfaan.

Saturday, April 18, 2020

Mengenal jam


MENGENAL JAM


Tujuan Pembelajaran
  •     Setelah mengamati gambar jam, siswa dapat mengenal        satuan baku untuk mengukur waktu dengan benar.
  •      Setelah tanda waktu yang ditunjukkan jarum jam, siswa dapat membaca dan menentukan tanda waktu yang ditunjukkan jarum jam dengan tepat.


Materi Pembelajaran

Dalam rutinitas sehari-hari tidak akan terlepas dari waktu, mulai dari bangun tidur pagi, mandi, sarapan, berangkat sekolah, melaksanakan kegiatan belajar dan bermain, nonton TV, olahraga dan banyak lagi kegiatan yang membutuhkan waktu.
Jadwal pelajaran maupun jadwal kegiatan setiap hari adalah contoh penerapan pengaturan waktu yang terdapat jenis kegiatan dan waktu melaksanakannya. Tentunya sebelum membuat jadwal harus terlebih dahulu dapat membaca waktu yang tertera pada jam dinding.
Sekarang mari belajar mengenal waktu. Pukul berapa kamu masuk sekolah? Pada jadwal yang tertera, masuk sekolah pukul 07.00. Bagaimana bisa mengetahui sekarang pukul 07.00?
Berdasarkan tema sebelumnya, pukul tujuh tertera seperti gmbar berikut:
hgyguhjhuuuj copy
Setelah dapat membaca jam, sekarang kita bersama dapat mengerti berapa menit dalam satu jam dan berapa detik dalam satu menit melalui pengamatan, mari kita amati jam dinding atau jam tangan di sekelilingmu lalu hitung dalam satu putaran, jarum jam yang menunjukkan detik bergerak berapa detik?
nmmnnm
Contoh:
  1. 2 jam = 120 menit
  2. 3 jam = 180  menit
  3. 1 jam 30 menit = 90 menit
  4. 1 jam 15 menit = 75 menit
  5. Hasan mandi pukul 03.30 sore dan selesai pukul 03.45 sore. Berapa menit Hasan mandi? Jawab : 15 menit
  6. Ani mengerjakan PR selama 1 jam 55 menit, berapa menit Ani mengerjakan PR? Jawab : 60 menit + 55 menit = 115 menit
Setelah mengetahui hal tersebut, selanjutnya dapat kita ketahui bersama bahwa satu putaran jam ada 12 jam, karena ada siang dan malam, maka dalam sehari ada 24 jam.
kalau seminggu ada berapa hari ya?? hayoo, siapa yang bisa menyebutkan nama-nama hari? Yap, benar sekali, ada Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu. jadi dalam satu minggu ada 7 hari.
kalau hari ini hari Senin, 5 hari lagi hari apa ya?? Yuk, kita lihat pada kalender, lima hari setelah hari Senin itu hari apa ya??
Nah setelah melihat kalender, ternyata lima hari setelah hari Senin adalah hari Sabtu. ðŸ™‚
Kalau hari ini hari Rabu, dua hari yang lalu hari apa?
mbuhnhb
Betul sekali, dua hari yang lalu adalah hari Senin.
Contoh :
  1. 2 hari = 48 jam
  2. 3 hari = 72 jam
  3. 2 minggu = 14 hari
  4. 1 bulan = 30 hari
  5. 3 minggu 4 hari = 25 hari
  6. Hari ini hari Minggu, 3 hari yang lalu adalah hari Kamis
  7. Kemarin hari Jumat, 2 hari lagi hari Senin
  8. 4 hari setelah hari Rabu adalah hari Minggu
Dalam satu tahun, ada berapa bulan adik-adik?? Sebelum mencari satu tahun ada berapa bulan, sekarang sebutkan nama-nama bulan pada satu tahun.
gyhkkij
Pintar sekali.. ada berapa jumlah bulan-bulan tersebut? Yaps, ada 12 bulan.. ðŸ™‚
hari
Waah, setelah membaca materi diatas, kalian sudah paham kan tentang waktu? Sekarang kalian sudah pandai dalam membaca jam dan kalender yang ada di rumah kalian.
untuk lebih memahami materi di atas, mari simak materi tentang waktu berikut: 

C.  Latihan Soal

untuk mengerjakan latihan soal-soal tentang waktu, anak-anak bisa membuka link di bawah ini

semoga setelah kalian mempelajari materi ini, kalian bisa paham mengenai waktu. demikian dan trimakasih.
Wassalamualaikum WR WB. 

                                                                                               







Friday, April 17, 2020

Life skill anak

Life skill anak

tahukan anak seberapa penting anak memiliki life skill untuk menunjang kehidupan mereka dikemudian hari. Proses pembelajaran life skill ini merupakan dasar pendidikan yang seharusnya dibentuk oleh keluarga, karena pendidikan formal atau sekolah tidak banyak menyentuh pendidikan life skill anak.

Banyak sekali kegiatan life skill yang harus dimiliki oleh anak. Diantaranya :
1. Mandi
2. Memakai baju
3. Gosok gigi
4. Makan
5. Merapihkan tempat tidur
6. Memotong kuku
7. Menjemur pakaian
8. Mencuci
9. Menanam
10. Nyetrika
11. Mengganti sarung bantal dan Sprai
12. Menyapu dan ngepel lantai
13. Mengikat tali sepatu
14. Menggunting kuku
15. Melipat baju








Virus Corona Dimata Anak-anak

https://youtu.be/znNxi6PcWTw

Thursday, September 21, 2017

Literasi di Pelosok Negri

Literasi di Pelosok Negeri

Oleh :  Suhendra S, S.Pd

“Pak Guru, ada yang berantem di sana!” teriak Elsih dengan keras.

“Siapa yang berantem, Elsih?” tanyaku. Tanpa menunggu jawabannya, aku segera menghampiri kerumunan di pojok sekolah.

Tampak Sahrudin memukuli Evan dengan begitu kerasnya, dengan cepat kutarik tangan Sahrudin. Mata Sahrudin menatap tajam Evan. Keduanya segera kubawa ke kantor.  

“Mengapa kalian pagi-pagi sudah berantem?” tanyaku pada mereka.

“Sahrudin menyembunyikan bukuku Pak,” jawab Evan dengan terisak.

Setelah memberikan sedikit nasihat, aku mendorong keduanya untuk berdamai dan saling memaafkan. Sebagai hukuman akibat melanggar peraturan, keduanya diharuskan membuat tulisan “saya tidak akan berantem lagi” sebanyak 10 kali.

Sahrudin kupersilahkan masuk ke kelas. Sedangkan Evan tetap bersamaku. Ada hal yang hendak kugali darinya. Kesempatan ini tidak ingin kusia-siakan begitu saja. Banyak pertanyaan yang kuajukan pada Evan, baik tentang keluarga, kegiatan di rumah, maupun kesukaannya.

Evan yang sering jadi buah bibir disekoalahku ini dikenal sebagai siswa yang belum dapat membaca. Padahal, dia sudah berada di kelas 3 MIN 1 Bombana, Kabupaten Bombana, Sulawesi tenggara.

Awal perkenalan dengan anak ini dimulai dari perbincangan kecil para guru.
“Menurut saya, Evan itu pantasnya dimasukan ke sekolah luar biasa,” ucap salah satu guru ketika kami sedang memperbincangkannya.

Mendengar ucapan tersebut aku merasa lemas seketika. Hatiku terbakar, entah kenapa. guru tersebut belum tahu diri Evan yang sebenarnya, namun berkata kurang patut menurutku.

Sekolah kami merupakan sekolah yang berada di perbatasan Kabupaten, sehingga akses ke pusat kota sulit dilakukan. Berkat dukungan dari kepala sekolah, aku tidak patah semangat untuk melakukan perubahan di sekolah ini. Masalahan yang dihadapi Evan menginspirasiku agar tidak ada lagi anak yang tidak dapat membaca, akhirnya munculah ide sebuah gerakan membaca yang kelak dinamakan GELAS (Gerakan Literasi Sekolah).

GELAS bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dan menulis anak-anak, dimana sejak pertama kali aku berada di sini, perpustakaan sekolah hanya menjadi sebuah gudang buku yang tak pernah dibuka dan dilihat. Dengan kondisi itulah aku berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik untuk gerakan ini, agar minat baca mereka tumbuh dengan kesadaran sendiri.

Aku berpikir keras agar gerakan ini disukai oleh semua kalangan, baik rekan-rekan guru, orangtua maupun siswa. Untuk menyukseskan gerakan ini, aku bekerjasama dengan siswa kelas 6. Dibawah bimbinganku, merekaku berikan kepercayaan untuk mengelola semua gerakan ini, mulai dari memilih buku, menyiapkan meja, hadiah, sampai dengan kostum yang mereka kenakan. Kepercayaan ini aku berikan untuk mengajarkan mereka keberanian dan kemandirian.

Siswa kelas 6 pun sudah siap menyambut para pembaca, mereka menyediakan buku-buku yang di pajang di depan kelas. Setiap siswa memilih buku yang ingin mereka baca, dengan waktu 15 menit anak-anak membaca di lingkungan sekolah, ada yang membaca di dalam kelas, di koridor sekolah, di taman, bahkan di bawah pohon.

Sedangkan bagi anak-anak yang belum dapat membaca seperti Evan, aku merancang sebuah kegiatan agar belajar membaca terasa menyenangkan. Kegiatan yang aku buat seperti mendongeng dengan menggunakan boneka tangan, membuat huruf menggunakan lilin warna, tetab-tebakan menyambung kata dan lain sebagainya. 

Hasil positif yang kami peroleh dari gerakan ini adalah semakin banyaknya siswa yang masuk ke perpustakaan untuk membaca atau bermain alat-alat peraga yang ada di perpustakaan. Disamping itu ada beberapa siswa yang meminjam buku sekolah untuk dibaca di rumahnya, serta pengetahuan mereka pun semakin bertambah.

Gerakan literasi hari ini sudah selesai, waktunya anak-anak belajar di kelas. Guru kelas 3 ternyata izin tidak masuk. Karena jam pertama dan kedua tidak ada jadwal mengajar, aku pun berinisiatif menggantikannya. Ada kesempatan lagi untuk mengenal jauh Evan.

“Anak-anak apa yang Bapak pegang ini?” tanyaku setelah mengucapkan salam, berdoa bersama dan yel-yel semangat.

“Uang sepuluh ribu, Pak!” serentak mereka menjawab.

“Hari ini kita akan belajar tentang apa ya?” aku merangsang imajinasi mereka dengan pertanyaan.

Ada yang menjawab tentang pasar, bank, belanja, atau uang.
“Menurut Evan, hari ini kita mau belajar pelajaran apa  ya, Nak?” tanyaku pada Evan, yang duduk di sudut kelas.

Detak jantungku berdegup kencang menunggu jawabannya.
“Matematika, Pak” jawabnya dengan nada malu.

“Wah jawaban Evan benar, tepuk heba!.” Akupun memberi apresiasi kepadanya bersama seluruh siswa

“ Waaaaaw hebat!”  jawab serempak teman-temannya dengan memberikan dua jempol kepada Evan.

“Hari ini kita belajar matematika, silahkan bukunya disiapkan,” perintahku pada siswa.
Aku membagi siswa ke dalam empat kelompok, setiap kelompok akan berkopetisi untuk mendapatkan juara.

“Waduh satu kelompok sama Evan. Pak dia dongo, saya gak mau satu kelompok sama dia,” protes Rizki.

“Rizki, ini sudah ketentuan permainan, siapa pun anggotanya itulah kelompok kalian,” sergahku.

Setelah pembahasan cara menulis nominal uang rupiah dengan benar, aku mengadakan kompetisi di setiap kelompok. Setelah siswa-siswa yang lain bergantian ke papan tulis, giliran Evan yang maju.

“Pasti si dongo salah,” ejek Rizki dihadapan teman-temannya.

“Rizki sekali lagi kamu mengatakan itu, Bapak akan hukum kamu,” ancamku dengan memendam dongkol di hati.

Memang benar yang dibicarakan selama ini tentang Evan. Aku menyaksikan langsung dia memang belum bisa membaca. jangankan membaca, huruf saja dia belum tahu.

Untuk mencari tahu masalah Evan yang sebenarnya, kugali beberapa informasi dari berbagai sumber. Sampai akhirnya aku berkesimpulan bahwa Evan mengalami disleksia. Awalnya aku bingung harus berbuat apa. Tapi, setelah memetik inspirasi dari film tentang anak disleksia yang ada di laptopku, aku percaya Evan bisa sembuh.

“Evan, mau tidak bermain dengan Bapak?” tawaranku padanya suatu ketika.

“Bermain apa, Pak?” jawabnya dengan penuh senyuman

“Main ular tangga,” balasku

Aku membuat ular tangga ini hasil mencari tahu apa kesukaan Evan. Kebetulan saat itu anak-anak sedang hobi bermain ular tangga, aku menciptakan ular tangga dengan memodifikasi ular tangga yang biasa anak-anak mainkan. Agar tidak sulit untuk mereka mainkan, aku hanya mengubah sedikit aturan untuk memainkannya.

Bahan dan alat yang diperlukan adalah kertas karton, gambar-gambar (hewan, tumbuhan atau benda) lem, gunting, pensil, spidol warna, penggaris, pulpen dan lem pelastik.

Untuk membuatnya, Pertama aku memotong kertas karton dengan ukuran 30 x 60 sentimeter. Lalu karton diberi garis lurus vertikal dan horizontal hingga menghasilkan kotak sejumlah 100 buah. Di kotak-kotak inilah kutempelkan gambar-gambar yang keduanya saling berhubungan. Gambar-gambar tersebut kemudian disatukan oleh ular dan tangga.

Setelah selesai, aku menuliskan perkalian di delapan kotak yang ada di sana, seperti 3x4, 5x2, 2x4. Lalu menuliskan nomor 1-9 dan dilanjutkan dengan abjad dari A sampai Z. Setelah itu, ditutup dengan lem pelastik agar kertas tidak terkena air atau mudah sobek. 

Aturan main dalam permainan ular tangga ini sebagai berikut : ketika mengenai kotak mana pun,  siswa harus mengucapkan huruf atau angka yang berada di kotak tersebut. Jika tidak bisa, maka dia harus turun satu langkah. Saat posisi penjumlahan, pengurangan ataupun perkalian, siswa yang mampu menjawab bisa naik sebanyak tiga langkah. Apabila salah menjawab, maka dia harus turun kembali sebanyak tiga langkah.

Permainan pun dimulai, Evan melemparkan dadu tersebut. Muncullah angka 5 pada dadunya. Dia pun perlahan menggeserkan pionnya dengan dibarengi hitungan 1 sampai 5.

“Lima, Pak” teriaknya.

Sekarang giliranku melemparkan dadu. Muncullah angka enam pada dadu. Aku  menggeserkan perlahan agar Evan terbiasa dengan angka-angka ini. Kebetulan pionku berada di posisi yang menunjukan tangga. Pion pun naik melangkah. Karena yang keluar angka 6, aku melemparkan dadu kembali dan diperolehlah angka 3. Perlahan pion pun kugeser hingga berhenti di huruf K. 

Giliran Evan yang berikutnya melemparkan dadu. Permainan semakin seru. Beberapa huruf yang dilewati, ternyata belum Evan ketahui, yaitu B, D, P, F, N dan M. Evan juga belum bisa membedakan huruf kapital dan huruf kecil. Ketika mengetahui huruf B (kapital), dia tidak tahu hurup b yang kecil. Perbedaan huruf kapital dan kecil ini membingungkan dirinya. Sama halnya saat ia kesulitan membedakan huruf P dan F.

Dari informasi yang kuperoleh, disleksia bisa diatasi dengan banyak cara. Selain menggunakan ular tangga, aku aku biasa membawa lilin-lilin warna untuk membuat huruf. Cerita juga kerap kupakai untuk mengenalkan huruf. Gambar-gambar berhuruf kujadikan sebagai nama tokoh cerita.

Tanpa terasa, satu bulan sudah aku menangani Evan, Dia sudah mengetahui huruf-huruf. Tinggal mengajarinya untuk menyambungkan kata per karta. Karena ada banyak aktivitas lain yang juga penting, kukurangi porsi mendampingi Evan di luar sekolah. Tentu saja aku sebenarnya tidak ingin kemajuan yang sudah dicapai Evan terhenti tiba-tiba. Sebuah carapun sudah kupikirkan : ular tangga buatanku kuberikan kepadanya untuk dibawa ke rumah. Dengan ular tangga ini aku berharap dia tetap bermain bersama teman-temannya sambil secara tidak langsung belajar mengenal huruf. 

Suatu hari saat aku mengajar di kelas 1, mataku tak sengaja melihat Evan yang sedang memperhatikanku. Tepatnya memerhatikan huruf-huruf yang kutuliskan di papan tulis. Huruf-huruf itu berisikan perintah pada anak-anak. Lamat-lamat kudengar suara Evan turut membaca. Hatiku langsung bungah melihat kemajuan Evan.

Selesai mengajar siswa kelas satu, aku segera memanggil Evan. Kusodorkan kertas dengan satu kalimat pendek di atasnya. Dengan terbata-bata Evan membaca kata demi kata kalimat tersebut. Hatiku kembali bahagia dan terharu melihat Evan sudah bisa membaca walau masih terbata-bata.

Evan hanya salah satu dari sekian anak spesial yang pernah kutemui. Mereka butuh perhatian dan kasih sayang pendidikan, dan bukan sebaliknya, yakni menerima bentakan, ejekan, dan hinaan. Apabila psikologi anak-anak itu labil dan rapuh, lingkungan sekolah berpotensi menghancurkan mereka dengan cepat.


Bukan hanya Evan dan beberapa temannya yang masih kesulitan dalam membaca dan menulis, masih terdapat ribuan anak Indonesia yang membutuhkan perhatian kita. Hal ini menjadi perhatian kita bersama untuk memajukan pendidikan Indonesia yang lebih baik, salah satu kemajuan tersebut dengan Gerakan Literasi Sekolah. Karena dengan gerakan ini banyak perubahan-perubahan yang lebih baik yang dirasakan oleh siswa, guru maupun sekolah. Mari kita konsisten dan terus berinovasi menciptakan suasana literasi yang menyenangkan.